Thursday, November 09, 2006

Karena Kita Punya Tujuan Hidup

Pernahkah anda merasa tidak mempunyai tujuan hidup? Saya pernah. Pernah ada fase seperti ini dalam hidup saya, dimana saya merasa hampa, kosong dan tak ada makna yang sudah saya torehkan dalam kehidupan ini.

Namun, kemudian dalam eprjalanan kehidupan lambat laun gerbang pikiran saya mulai terbuka. Tujuan hidup mulai sedikit-demi sedikit jelas. Bukan karena dipikirkan dan direnungi , tapi ketika melihat lebih dekat pada detail kehidupan saya.

Tak pernah terpikirkan bahwa saya akan menyadari hal ini. Ketika di awal 2006 uwak saya yang berumur 61 meninggal, ada rasa kehilangan di situ. Bukan hanya itu, dalam beberapa bulan kemudian, beberapa tetangga sya pun wafat, kembali menghadap illahi. Semuanya di usia yang hampir sama, sekitar 60 tahunan. Tersentak saya sadar, bahwa segitulah umur Ibu saya tercinta. Bukankah Nabi kita yang tutup usia pada usia 63 tahun pun pernah bersabda bahwa rata-rata usia ummatnya sekitar 60 tahun, dan hanya sedikit yang lebih dari itu?

Tersadar kemudian bahwa selama ini, sebagai anak saya beluml;ah termasuk yang berbakti. Sangat banyak nasihatnya yang tidak dituruti, sangat banyak keinginannya yang tidak saya penuhi, terkadang kata –kata dengan nada keras keluar dari mulut ini, dan rasanya masih sangat jauh dari membahagiakan ibunda tercinta. Tapi beliau tidak pernah meminta ap-apa sebagai balasan kasih sayangnya, atas pengorbanannya sejak muda belia hingga usianya yang senja saat ini. Saya takut sampai akhir hayatnya nanti (meskipun ada kemungkinan saya yang meninggal duluan (who knows) saya belum bisa memberikan kebahagiaan sebagai tanda bakti.

Dari situlah saya bertekad untuk berusaha membahagiakan ibunda tercinta. Minimal dengan ucapan salam ketika hendak pergi atau pulang, dengan kecupan-kecupan kecil kapanpun saya sempat – ketika pulang ke rumah, ketika membangunkan beliau dari tidur, ketika makan bersama, ketika memasak di dapur, ketika nonton tv, dengan menyisihkan gaji sedikit untuk kebutuhan rumah tangga kami, dengan membelikannya makanan favoritnya. Semua ini saya harapkan semoga Ibu bahagia, meskipun tidak akan pernah sepadan dengan pengorbanan yang telah dia berikan.

Ya, membahagiakan Ibu saya. Itulah tujuan hidup saya sekarang ini.

Bantulah diri ini ya Allah ….